Beijing – Pemerintah China menolak usulan pemerintah Filipina yang ingin menggelar mediasi internasional berkaitan dengan sengketa Laut China Selatan. China secara formal melayangkan protes terhadap usulan yang diajukan Filipina mengenai kedaulatan pulau Spratly yang dimuat dalam website kementerian luar negeri China.
Kepala departemen urusan perbatasan dan kelautan ChinaDeng Zhonghua, Senin (30/4/2012), menyatakan protesnya dengan mengirimkan surat ke alamat Duta Besar Filipina di Beijing Sabtu (29/4/2012).
Deng mengatakan kepulauan Spratly adalah bagian integral dari teritori China, sementara usulan Filipina itu dinilainya melanggar prinsip-prinsip dasar hubungan internasional, selain merusak tatanan internasional.
“China menginginkan Filipina menghormati kedaulatan teritorinya dan tidak ingin mengeruhkan situasi berkembang lebih jauh,” tulis pernyataan di website itu seperti dikutip China Daily Senin .
China menyatakan seluruh teritorial di Laut China Selatan, termasuk perairan yang dekat dengan garis pantai Filipina dan negara-negara lain di Asia Tenggara sebagai bagian dari wilayah China.
Menurut peta kelautan, kepulauan Spratly hanya berjarak 140 mil laut (230 Km) dari pulau terbesar Filipina Luzon, sementara dari daratan China di provinsi Hainan berjarak 1.200 Km ke arah barat daya.
Ketegangan di Laut China Selatan tentu menjadi perhatian Amerika Serikat yang suka berulah terhadap wilayah sengketa di seluruh dunia. Di Laut China Selatan, AS beralasan ikut campur tangan, karena perairan ini adalah salah satu jalur terpenting pelayaran dunia.
Karena itu China pekan lalu menggelar latihan perang-perangan dengan armada Rusia yang berada di kawasan Pasifik. Negara-negara yang terancan oleh kekuatan militer China seperti Korea, Jepang dan sebagian negara-negara ASEAN tentu was-was dengan latihan gabungan China-Rusia ini.
Di lain pihak, China menginginkan menempuh perundingan damai dalam menyelesaikan batas teritorinya di Laut China Selatan dengan banyak negara di kawasan ASEAN. Namun di pihak lain, ketika Filipina memberi usulan perundingan internasional, justru China menolak. Jadi jalan mana yang paling pas untuk berunding dengan China mengenai teritorinya, masih belum jelas. [tjs]

0 komentar:
Posting Komentar