, Bandung - Sekitar 75 persen bayi usia di bawah tiga bulan di Indonesia menderita regurgitasi atau gumoh, yang bila berlangsung terus menerus juga berpotensi mengalami malnutri.
Dokter spesialis anak dan konsultan pediatrik gastro dari Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr Badriul Hegar, pada seminar kesehatan anak di Hotel Grand Royal Panghegar Bandung, Kamis menuturkan regurgitasi tidak dapat dicegah. Namun para ibu atau orang tua bisa menurunkan risikonya, yakni dengan pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif.
"Penelitian di RSCM tahun 2004 tersebut juga membuktikan bahwa bayi yang mendapatkan ASI eksklusif lebih jarang mengalami regurgitasi dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan ASI eksklusif," ujarnya.
Selain itu, ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan oleh para ibu jika mengetahui bayinya mengalami gumoh, yakni dengan menaruh bantal di bagian pinggang belakang dari si bayi tersebut.
"Pertama setelah didiamkan, kita taruh bantal di bagian belakang pinggangnya atau diganjal pakai bantal dan buat posisi si bayi lebih tinggi 30 hingga 60 derajat," katanya.
Sementara itu, Kepala Departemen Pediatrik di Rumah Sakit University Brusel (Brussel UZ) Prof Yvan Vandenplas menambahkan, gejala regurgitasi sering dikaitkan dengan reflux pada saluran cerna atau yang lebih dikenal dengan istilah "happy vomitting" yang banyak menimbulkan kecemasan bagi para ibu.
"Regurgitasi merupakan hal yang menjadi perhatian pada satu hingga tiga ibu di seluruh dunia," kata Yvan.
Ia menjelaskan, bayi dengan kondisi regurgitasi berlanjut juga dapat mengalami kondisi sulit menelan atau yang disebut dengan dysphabia.
"Setiap nutrisi yang masuk ke dalam lambung bayi belum sempat dicerna dengan sempurna sehingga berpotensi menyebabkan malnutrisi. Tidak hanya itu, rasa sakit juga akan dialami bayi karena adanya iritasi asam lambut dari perut hingga tenggorokan," kata Yvan.[ito]
Sumber ': http://www.inilahjabar.com/read/detail/1857550/cara-mengurangi-gumoh-pada-bayi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar