Menelaah Kapitalisme Merah - www.inilah.com

Written By Unknown on Kamis, 26 April 2012 | 08.16


Jakarta – Sekiranya kapitalisme Asia (Jepang, China, Korsel, dan Asia Tenggara) terus berkembang dalam sepuluh sampai dua puluh tahun ke depan, hampir pasti prediksi pada akademisi mengenai Abad Pasifik merupakan suatu keniscayaan.
Setidaknya, dewasa ini, hal itu sudah terjadi dimana krisis ekonomi AS/Eropa, menemukan kapitalisme Asia sebagai harapan bagi ekonomi dunia yang dinamis dan relatif selamat dari krisis.
Itulah sebabnya studi China, Jepang dan Asia di berbagai universitas dan lembaga di AS sangat pesat. Universitas Stanford, Universitas California Berkeley, Universitas Washington, MIT dan Harvard, misalnya ,membangun kerjasama dengan berbagai universitas di Beijing, seperti Universitas Beijing, Tsinghua dan sebagainya.
Kerjasama itu mencakup pertukaran mahasiswa, akademisi dan peneliti, termasuk membangun gedung perwakilan di kampus-kampus China terkemuka bagi para mahasiswa dan akademisi AS yang mempelajari China baik itu menyangkut China kuno sampai modernisasi China dewasa ini, dengan anggaran yang relatif besar. Kemunduran ekonomi AS tidak menjadi penghalang bagi Amerika untuk terus mempelajari China dalam segala aspeknya, apalagi minat mahasiswa AS untuk itu cukup besar.
Bagaimanapun China adalah fenomena dunia, pasar besar sekaligus produsen besar yang menyapu dunia dengan segala macam produknya. China sudah menjadi pabrik dunia. Para kapitalis China umumnya loyal kepada bangsa dan negaranya, termasuk para tapitan China di perantauan yang hampir semuanya menanamkan modal di China.
Itulah ''Kapitalisme Merah dan Nasionalisme '' ala China dimana kesetiaan pada negeri leluhur, sangat kuat dan menjadi perhatian dunia, bahkan menjadi prasangka dan kecurigaan masyarakat dunia terhadap mereka.
Rong Yiren, sekedar ilustrasi, seorang pengusaha yang dijuluki “kapitalis merah” (red capitalist) sebelum fenomena orang kaya baru dan konglomerat merebak dan menjadi umum di Tiongkok seperti sekarang ini, adalah tipikal kapitalis merah yang berdedikasi untuk bangsanya.
Rong dilahirkan pada tanggal 1 Mei 1916 dan meninggal di usia 89 tahun pada tanggal 26 Oktober 2005. Dalam periode sejarah yang penuh intrik antara harus bertahan, survival dan menyesuaikan diri dengan komunisme Mao Zedong hingga Deng Xiaoping, dalam periode peralihan Tiongkok yang penuh dengan masalah dan tantangan, Rong memutuskan untuk tetap di Tiongkok di saat pengusaha kaya lainnya memilih kabur ke Hong Kong atau Taiwan menjauhi komunisme.
Rong disambut baik oleh Partai Komunis China (PKC) dan masuk jajaran atas pos pemerintah setelah mengalihkan aset kekayaan keluarganya kepada negara. Rong mengalami persekusi semasa Revolusi Kebudayaan Mao Zedong. Tapi ia tetap mengabdi kepada kepentingan bangsanya.
Trio Penggerak
Kini, wajah trio penggerak komunisme di China kadang masih ditampilkan di dinding rumah atau restoran China daratan: Mao Zedong, Lenin, dan Stalin. Tapi di Hong Kong, kawasan yang sudah menjadi bagian integral China, saya melihat wajah ketiga sosok komunisme itu tinggal sejarah yang meratapi masa silam yang kian menjauh, masa kini yang mungkin menggelisahkan hati, dan masa depan yang diwarnai ketidakpastian: ekonomi pasar yang menggelegar di tengah komunisme yang memudar.
Di kalangan muda China daratan sendiri, komunisme hanya sejarah, tidak untuk kehidupan nyata. Uang adalah ideologi masyarakat yang paling menonjol. Bukan komunisme. Dengan uang, orang China menjadi gemar belanja dan melakukan apa saja. Di Hong Kong, saya melihat bagaimana kaum muda China daratan bergaya, tak malu kalah sama kaum muda Hong Kong yang sejak lama sudah ‘’ kapitalis dan pragmatis’’.
Deng Xiaoping membuka pintu reformasi China daratan 1979, dan kini dengan konsep satu China dua sistem, ‘’kapitalisme merah’’ di Beijing sangat mungkin justru meniru model kapitalisme Hong Kong yang sudah lebih dahulu begitu maju dan progresif.
Itulah sebagian wajah ‘’kapitalisme merah’’: suatu perpaduan ekonomi pasar dan perencanaan negara ala China yang mengusung mimpi kebesaran negeri tengah, ‘’zhongguo’’, sebagai kekuatan dunia agar tak lagi dipermalukan oleh Barat yang pernah lama menjajah mereka.
Carl E. Walter dan Fraser J.T. Howie dalam karyanya'' Red Capitalism'', mencatat ada kritik tajam terhadap China dalam mengelola keuangannya yang begitu kental aroma politiknya. Bahwa banyak pejabat keuangan China dan pakar tahu bagaimana sistem mereka bekerja, bagaimana para penguasa China bergerak sebagai sebuah bisnis keluarga di masa lalu. Tapi sejak Zhu Rongji berkuasa, China melakukan reformasi keuangan yang cermat, hati-hati, transformatif dan konsisten.
Kini negeri komunis merah itu terbukti tangguh dalam menahan badai krisis keuangan yang bermula muncul dari Amerika dan Eropa mulai tiga tahun silam. China punya cara sendiri untuk bertahan dan bertumbuh. Ada banyak pendapat bahwa China bisa seperti sekarang, bukan karena komunisme, melainkan karena mereka punya etos kerja tinggi dan gemar menabung. Ajaran konfusianisme kerakyatan juga punya peran penting.
Para analis melihat, etos kerja yang tinggi itulah yang mudah digerakkan untuk menggenjot produksi. Hampir seluruh merek elektronik dan otomotif terkenal, kini telah diproduksi di China selain aneka merek China sendiri. Upah buruh murah memungkinkah China bisa memproduksi apa saja dengan harga jual di pasar jauh lebih murah. Indonesia kini juga tengah terengah-engah digempur berbagai produk China.
China seperti ditulis Samuel Huntington dan Francis Fukuyama, yang menyoroti faktor budaya, culture matters, memang masuk kategori bangsa yang low trust society. Mereka bukan bangsa yang menganut etika Protestan seperti ditulis Max Weber yang punya peluang lebih makmur dibandingkan etika agama lain. China tak masuk kamus bangsa yang punya potensi berkembang dan makmur. Tapi, kini tesis itu tengah dijungkirkan jika melihat pertumbuhan China yang fantastis, dan Hong Kong menjadi salah atu pusat ekonomi kapitalisme merah yang mencorong di Asia.
Maka, tak mengherankan, seiring menguatnya ekonomi China, anggaran militer RRC juga terus ditingkatkan. Tahun 2000, anggaran militer China menghabiskan US$90 milyar dan pada 2010, anggaran itu meningkat 30 miliar dolar AS menjadi US$120 miliar (sekian kali lipat APBN kita tahun 2010), dengan jumlah pasukan AD 2,3 juta tentara. Angkatan Daratnya merupakan kekuatan AD paling besar di dunia.
Tahun ini budget pertahanan tahun ini mencapai US$160 miliar, sebuah angka luar biasa besar, bandingkan dengan APBN Indonesia yang setahun sekitarRp1.600-1.700 triliun. Angka itu melonjak 12 persen dari anggaran tahun lalu.
Keberhasilan modernisasi ekonomi China melalui Kapitalisme Merahnya, untuk sementara sudah mengejutkan masyarakat dunia dan membuat dunia iri padanya. Namun menurut Prof Dani Rodrik, citra China sebagai raksasa dunia dengan kombinasi ekspor dan strategi diversifikasi ekonomi maupun inovasi institusi, bukanlah gambaran yang tanpa persoalan di masa depan.
Bahkan gambaran itu tidak semuanya indah. China dan mitra dagangnya, terutama AS, akan terus saling bersitegang dan berkonflik panjang yang mencakup keamanan produk, manipulasi mata uang dan pembatasan akses pasar untuk berbagai jenis produk.
Ketegangan dan konflik hubungan dagang AS dan China itu, boleh jadi, menjadi masalah bagi Kapitalisme Merah ala China, jika tak ditangani dengan baik oleh Beijing di masa depan. Sejarah sedang menunggu dan melihat apa yang akan terjadi di China di masa depan. [tjs]

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik