Berkeley – Seusai Arab Spring, ada fenomena bahwa pengaruh Amerika Serikat di bawah Presiden Barack Obama di Timur Tengah mengalami kemunduran serius seirama dengan kemerosotan ekonominya.Sementara kemenangan para Islamis dalam pemilu pasca Arab Spring di Timur Tengah (Mesir, Tunisia, Maroko, dan akan disusul Libya,Yaman dan seterusnya) telah mencemaskan Israel, sekutu utama Amerika Serikat di kawasan itu.
Sebagaimana diungkapkan Profesor John Esposito dari Georgetown University, dalam lawatan ke Cairo Mesir beberapa tahun lalu, Presiden Obama berpidato simpatik terhadap Dunia Islam. Ia menyerukan kemitraan AS dan Islam berdasarkan prinsip saling menghormati. Bahkan Obama menyatakan AS akan memerangi stereotipe negatif mengenai Islam.
Obama juga menunjukkan empati atas perjuangan Palestina, empati atas status Yerusalem yang menjadi salah satu kota suci Islam (Kristen dan Yahudi), yang terus menjadi hambatan berat dalam negosiasi Israel-Palestina. Obama mampu menghapus kesan dan persepsi Dunia Muslim bahwa perang global AS melawan terorisme yang dilancarkan pendahulunya, George Bush merupakan perang melawan Islam dan Muslim.
Arah kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah, di mata Muslim menunjukkan arah yang lebih jelas di era Obama yakni mengutamakan dialog dan perdamaian, bukan perang dan kekerasan seperti halnya era Bush atas nama nasionalisme Amerika dan klaim kepentingan perdamaian dunia.
Para akademisi dan analis politik Amerika mengamati kiprah AS di Dunia Islam cenderung menurun. Kebijakan Presiden Barack Obama di Timur Tengah dinilai makin lemah, bahkan kehadiran AS di kawasan itu dirasakan kian ‘surut dan mengambang’ seiring surutnya ekonomi Amerika akibat krisis finansial.
Sementara pengaruh Iran dan Turki di Timur Tengah kian menguat. “Itu kenyataan politik yang terjadi, dimana Iran dan Turki kini bersaing dengan Arab Saudi untuk hadir dan berebut peran di kawasan pasca-Arab Spring,” ungkap Prof Fouad Ajami, pakar Timur Tengah dari Johns Hopkins University yang kini mengajar di Stanford.
Dalam kaitan ini, menyusul jatuhnya Moammar Khadafy di Libya, sejumlah rudal anti serangan udara dan rudal anti-tank dilaporkan Mosad (agen Israel) jatuh ke tangan Hamas dan Muslim radikal di Palestina. Hal ini menjadi kecemasan tersendiri bagi Israel, karena jarak tembak rudal itu mampu menjangkau dengan mudah wilayah-wilayah Israel.
Sikap AS yang mengorbankan Hosni Mubarak di Mesir dan Ben Ali di Tunisia dalam Arab Spring, menjadi cermin para pemimpin Arab bahwa AS tidak segan-segan mengorbankan para sekutu dan loyalis paling setianya. Sehingga mereka menoleh perhatian kepada Iran dan Turki yang berambisi memperkuat pengaruhnya di Timur Tengah pasca-Arab Spring.
''Dunia Arab tak sepenuhnya percaya pada AS sebab berbagai pengalaman sejarah menimbulkan kenyataan seperti itu,'' ungkap Profesor emeritus Hamid Algar di Universitas California Berkeley, pekan lalu.
“Pasca-jatuhnya Khadafy, sejumlah rudal strategis Libya beralih ke tangan Hamas dan Islamis radikal di Palestina, ditambah kemunduran AS di kawasan Timteng, membuat Israel cemas dan meningkatkan anggaran pertahanannya,” ungkap Profesor Efraim Inbar, seorang pengamat Timur Tengah.
Penarikan mundur AS dari Irak dan Afghanistan juga dilihat Dunia Arab sebagai kemunduran Washington untuk bertahan di kawasan itu, dan membuka peluang bagi Iran dan Turki serta Rusia dan China untuk meningkatkan kehadiran mereka di kawasan itu. Hal ini meningkatkan kekhawatiran Israel, negeri zionis yang terus berkonflik dengan Arab.
Israel sudah meningkatkan pertahanannya menyusul jatuhnya para diktator Arab sekutu AS dalam Arab Spring, karena khawatir para elite dan penguasa baru di Timur Tengah adalah para Islamis yang cenderung anti-Yahudi atau menentang Israel. Arab Spring sudah mengirimkan dering peringatan yang nyaring bagi Israel bahwa bulan madu AS dan sekutu Arabnya seperti Mesir, Yaman,Tunisia dan lainnya, sudah berlalu. Ancaman baru mengintai Israel di tengah melemahnya kehadiran AS di kawasan itu.
Salah satu masalah serius di mata AS dan Israel adalah Iran yang membangun kekuatan nuklir untuk tujuan damai. Israel termasuk yang khawatir atas nuklir Teheran ini. Namun Presiden AS Barack Obama, Maret lalu (4/3/2012), mengecam "pembicaraan terlalu dini tentang perang" dengan Iran. Obama meminta kesabaran dalam mengakhiri pertikaian nuklir Iran karena, tekanan internasional yang berkelanjutan dapat berfungsi untuk menekan Iran.
Obama tak berani menekan Iran sendirian karena ekonomi AS merosot akibat ‘era gemar perang’ periode Presiden George W Bush dan skandal finansial Subprime Mortgage, Lehman Brothers dan seterusnya, yang menguras keuangan AS .
Mengenai Iran, Simon Peres merupakan salah satu elite Israel yang menyebutnya sebagai "rezim yang jahat, kejam dan korup secara moral" yang bertekad mengendalikan Timur Tengah. Iran adalah pusat, sponsor, penyokong keuangan teror global. Iran merupakan sebuah bahaya bagi seluruh dunia," kata Peres.
Iran selama ini menegaskan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan energi sipil dan penelitian medis. Dalam hal ini, Intelijen AS yakin bahwa Iran saat ini tidak berniat untuk memproduksi senjata nuklir, meskipun negara itu mungkin sedang mengupayakan kapasitas untuk melakukan hal itu.
Washington sebenarnya telah menekankan pentingnya sanksi yang membuat jera dan diplomasi yang lebih maju. Namun Israel dilaporkan ingin bergerak lebih cepat dan tegas terhadap kegiatan nuklir Iran, dengan menggunakan serangan militer guna mencegah negara itu bahkan untuk mendapatkan kapasitas sebelum memutuskan akan memproduksi senjata nuklir. Agen Israel, Mosad, sudah membunuh beberapa ahli nuklir Iran dalam beberapa tahun ini.
Dalam hal ini, Obama sudah menyatakan, "Para pemimpin Iran harus tahu bahwa saya tidak punya kebijakan untuk memaksakan negosiasi secara damai (containment). Saya punya kebijakan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Dan seperti yang sudah pernah saya tegaskan, saya tidak akan ragu untuk menggunakan kekuatan militer jika itu perlu guna membela Amerika Serikat dan kepentingannya."
Presiden AS Barack Obama menghadapi kesulitan dalam negeri dalam melaksanakan kebijakan ekonomi dan politiknya. Kebijakan Politik Presiden Obama yang sering bertentangan dengan kelompok elite yang mengontrol Amerika Serikat. Hal ini menyebabkan dia tidak dapat menjalankan program dan janji-janji politiknya untuk memulihkan perekonomian AS yang mengalami krisis.
Obama juga terperangkap dengan kebijakan perang yang merupakan tanggung jawab Presiden sebelumnya. Perang Afganistan, dan Irak membutuhkan biaya besar yang seharusnya dapat digunakan untuk memulihkan perekonomian Amerika Serikat. Situasi ini membuat kebijakan Ob
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar