Jakarta - Eksploitasi yang terlalu berlebihan menyebabkan lingkungan tidak seimbang. Hewan terdesak dari habitatnya, hutan gundul, dan pabrik-pabrik yang membuat polusi.
Kesan kuat itulah yang nampak dari lukisan-lukisan karya Yarno. Pelukis yang baru menggelar pameran tunggal pertamanya di Galeri Apik, Jalan Radio Dalam, Jakarta.
"Saya ambil tema lingkungan karena pengalaman saya waktu kecil. Saya masa kecil di Sumatra Selatan di Pagar Alam. Saya kemudian kuliah di Jogja, setelah selesai kuliah saya kembali ke Pagar Alam saya melihat keadaan lingkungan dan hewan liar makin terdesak," ujar Yarno saat pembukaan pameran tersebut, Minggu (25/3).
Yarno memang pelukis yang baru memulai debutnya sebagai pelukis profesional, namun karya-karyanya sudah memikat banyak pemerhati lukisan. Menurut kurator Anton Larenz, hal itu disebabkan karena karya-karya Yarno mempunyai ciri khas yang sangat unik. Anton menilai lukisan-lukisan Yarno sangat berkarakter.
"Yarno adalah adalah salah satu pelukis berbakat. Bahasa visual yang khas, jadi ikon dan cepat diidentifikasi. Ini yang disukai pasar," imbuh Anton.
Direktur Galeri Apik Rahmat mengaku terpincut melirik karya-karya Yarno karena dalam tiap goresan kuasnya selalu tersirat makna seni lukis.
“Yakni kritik terhadap urbanisasi masyarakat yang dapat memengaruhi faktor lingkungan sekitar. Kami liat ada potensi keunikan kekuatan maju, kritik urbanisasi, pengaruh industrialisasi,” kata Rahmat.
Sementara, pelukis senior Kartika Affandi menilai karya Yarno sangat menyentuh.
"Meski lukisannya beraliran surealisme, tapi kita bisa merasakan ikan-ikan yang mati kehabisan nafas karena terpolusi pabrik yang berdiri di pinggir sungai," kata Kartika yang juga putri dari pelukis legendaris Affandi itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar